{"id":7084,"date":"2021-09-07T09:17:29","date_gmt":"2021-09-07T02:17:29","guid":{"rendered":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/?p=7084"},"modified":"2021-09-17T17:08:43","modified_gmt":"2021-09-17T10:08:43","slug":"kunci-penting-dalam-melafalkan-paritta-li-fo-da-chan-hui-wen-baik-secara-bersujud-maupun-menganggukkan-kepala-adalah-padaketulusan-hati-%e5%bf%b5%e7%a4%bc%e4%bd%9b%e5%a4%a7%e5%bf%8f","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/kunci-penting-dalam-melafalkan-paritta-li-fo-da-chan-hui-wen-baik-secara-bersujud-maupun-menganggukkan-kepala-adalah-padaketulusan-hati-%e5%bf%b5%e7%a4%bc%e4%bd%9b%e5%a4%a7%e5%bf%8f\/","title":{"rendered":"Kunci penting dalam melafalkan paritta Li Fo Da Chan Hui Wen baik secara bersujud maupun menganggukkan kepala adalah pada \u201cKetulusan Hati\u201c \u5ff5\u793c\u4f5b\u5927\u5fcf\u6094\u6587\u78d5\u5934\u8fd8\u662f\u70b9\u5934\u5173\u952e\u5728\u4e8e \u201c\u5fc3\u201d"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Wenda20140817B 18:45<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pendengar:<\/strong> Ada satu pertanyaan lagi tentang paritta L\u01d0 F\u00f3 D\u00e0 Ch\u00e0n Hu\u01d0 W\u00e9n. &nbsp;Sekarang ini saya mengikuti buku paritta ketika ada keterangan sujud, termasuk juga delapan puluh delapan Buddha, saya bersujud setiap nama Buddha. Beginilah cara saya melafalkan benda ini, dan tidak setiap hari harus melafalkan 3 hingga 5 kali. Pada umumnya, hal pertama yang saya lakukan setelah bangun tidur di pagi hari adalah memasang dupa, kemudian bersujud melafalkan L\u01d0 F\u00f3 D\u00e0 Ch\u00e0n Hu\u01d0 W\u00e9n, apakah boleh?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Master:<\/strong> Pertama-tama, apa itu &#8220;benda&#8221;? Kamu tidak boleh menyebut paritta Buddha sebagai &#8220;benda&#8221;. Mengertikah?&nbsp; (Iya) Hanya kamu, karena kamu adalah manusia, bukan &#8220;benda&#8221;.&nbsp; Jadi yang pertama, harus bersikap sopan; kedua, saat melafalkan L\u01d0 F\u00f3 D\u00e0 Ch\u00e0n Hu\u01d0 W\u00e9n, karena orang zaman kini &#8230; Bodhisattva memaafkan kita, jadi kita boleh menganggukkan kepala untuk mewakili bersujud, dan ketika duduk melafalkan L\u01d0 F\u00f3 D\u00e0 Ch\u00e0n Hu\u01d0 W\u00e9n dengan cara menganggukkan kepala adalah bersujud (Master, apakah benar boleh demikian? Yaitu dengan benar-benar bersujud dan menganggukkan kepala &#8230;) Yang satu adalah benar-benar bersujud, tetapi terbagi dua jenis di dalamnya: yang satu adalah kamu benar-benar bersujud tetapi pikiran tidak konsentrasi, dan itupun tidak ada gunanya; dan yang satu lagi adalah kamu duduk melafalkan paritta, meskipun tidak bersujud, tetapi pikiran kamu sepenuhnya konsentrasi pada paritta, itu berbeda. (Ya, benar, benar, terletak pada ketulusan hati, benarkah?) Benar. Melafal paritta adalah melafalkannya dengan pikiran kita. Ajaran Xin Ling Fa Men tidak memperhatikan khusus pada tampak luar, yang harus berpakaikan rapi dan bersih seperti semua orang tampaknya sama, dalam bersujud pun harus dengan tingkah yang sama\u2026., saya beritahu kamu tentang ini, sekarang adalah menyesuaikan jodoh \u2013 sesuai dengan dalam menyembah Buddha, asalkan dengan hati yang tulus. Buddha ada di dalam hati dan pikiran kita, ketika hati dan pikiranmu menyatu dengan Buddha, maka kamu adalah Buddha, dan Buddha adalah hati dan pikiranmu.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-audio\"><audio controls src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/wenda20140817B_1845.mp3\"><\/audio><figcaption><br><strong>Wenda20140817B\u00a0\u00a018:45<\/strong> &#8212; Kunci penting dalam melafalkan paritta Li Fo Da Chan Hui Wen baik secara bersujud maupun <br>menganggukkan kepala adalah pada \u201cKetulusan Hati\u201c <br>\u5ff5\u793c\u4f5b\u5927\u5fcf\u6094\u6587\u78d5\u5934\u8fd8\u662f\u70b9\u5934\u5173\u952e\u5728\u4e8e \u201c\u5fc3\u201d<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"666\" height=\"984\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/image-33.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7086\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/image-33.png 666w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/image-33-203x300.png 203w\" sizes=\"auto, (max-width: 666px) 100vw, 666px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"666\" height=\"103\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/image-34.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7087\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/image-34.png 666w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/09\/image-34-300x46.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 666px) 100vw, 666px\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wenda20140817B 18:45 Pendengar: Ada satu pertanyaan lagi tentang paritta L\u01d0 F\u00f3 D\u00e0 Ch\u00e0n Hu\u01d0 W\u00e9n.<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[2736,2657],"class_list":["post-7084","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tanya-jawab-master-lu","tag-kunci-penting-dalam-melafalkan-paritta-li-fo-da-chan-hui-wen-baik-secara-bersujud-maupun-menganggukkan-kepala-adalah-pada-ketulusan-hati","tag-2657"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7084","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7084"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7084\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7503,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7084\/revisions\/7503"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7084"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7084"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7084"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}