{"id":4205,"date":"2021-08-03T17:18:13","date_gmt":"2021-08-03T10:18:13","guid":{"rendered":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/?p=4205"},"modified":"2021-10-13T18:19:03","modified_gmt":"2021-10-13T11:19:03","slug":"bagaimana-memahami-berhenti-berbicara-adalah-sejenis-cara-pembinaan-diri-berdiam-diri-adalah-semacam-tingkatan-pembinaan-saat-melintasi-umat-harus-banyak-berbicara-yang-hal-tentang-membabarkan-d","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/bagaimana-memahami-berhenti-berbicara-adalah-sejenis-cara-pembinaan-diri-berdiam-diri-adalah-semacam-tingkatan-pembinaan-saat-melintasi-umat-harus-banyak-berbicara-yang-hal-tentang-membabarkan-d\/","title":{"rendered":"Bagaimana memahami &#8220;Berhenti berbicara adalah salah satu cara pembinaan diri, berdiam diri tergolong tingkatan pembinaan&#8221;; Saat melintasi umat harus banyak membicarakan hal-hal tentang membabarkan Dharma \u5982\u4f55\u7406\u89e3 \u201c \u6b62\u8bed\u662f\u4e00\u79cd\u4fee\u884c \uff0c \u65e0\u8a00\u662f\u4e00\u79cd\u5883\u754c \u201d\uff1b \u5ea6\u4eba\u65f6\u8981\u591a\u8bb2\u5f18\u6cd5\u7684\u8bdd"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Wenda20160501A 19:46<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pendengar Pria:<\/strong> Master, &#8220;berhenti berbicara adalah salah satu cara pembinaan diri, berdiam diri tergolong tingkatan pembinaan&#8221;, bagaimana memahami kalimat ini? Apakah dalam pembinaan diri kalimat ini sangat penting sekali?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Master menjawab:<\/strong> Sangat penting sekali, diam adalah emas. Kurangi berbicara tidak akan salah, banyak berbicara maka akan salah. Jadi orang mesti kurangi berbicara, anda lihat saja pemimpin mana yang banyak berbicara? Pemimpin yang banyak berbicara biasanya tidak akan bertahan lama, tidak boleh berbicara sembarangan. Maka tingkatan pembinaan seorang praktisi Buddhis lebih meningkat lagi, orang yang banyak &#8220;berpikir&#8221;, tidak bisa menjadi Pu Sa, tidak bisa menjadi Buddha; orang yang tidak banyak &#8220;berpikir&#8221; bisa bersih, bisa menjadi Pu Sa. &#8220;Berpikir&#8221; sama dengan berbicara, yang satu adalah bahasa batin, yang satunya adalah bahasa dari tubuh. Bahasa dari tubuh bagikan suara yang keluar dari mulut, bahasa yang keluar dari mulut dengan bahasa yang dipikirkan dalam hati, sama adalah bahasa. Walaupun mulut tidak mengatakan, otak berpikir yang buruk, muka anda perlahan akan berubah menjadi rupa yang jahat (Kami saat membabarkan Dharma, harus membimbing orang sehingga banyak berbicara, pembicaraan ini dengan &#8220;berhenti berbicara adalah salah satu cara pembinaan diri, berdiam diri tergolong tingkatan pembinaan&#8221;, apakah kedua ini adalah hal yang berbeda?) Tentu saja dua hal yang berbeda. Anda mengeluarkan kata-kata yang baik, anda keluar untuk menyelamatkan orang, tentu semakin banyak semakin baik. Master di dalam seminar Dharma, 2 jam berbicara berapa banyak? membuat orang lain bersukacita dalam Dharma, membuat orang belajar Dharma, pembicaraan seperti ini semakin banyak semakin baik, kurangi omongan yang tidak berguna, buat apa berkata yang tidak sesuai aturan dan ajaran Buddha Dharma, jika sudah mengatakannya diri sendiri merasa capek tidak?<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-audio\"><audio controls src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/wenda20160501A-1946.mp3\"><\/audio><figcaption>wenda20160501A \u00a019:46 &#8211; Bagaimana memahami &#8220;berhenti berbicara adalah salah satu cara pembinaan diri,  berdiam diri tergolong tingkatan pembinaan&#8221;; Saat melintasi umat harus banyak membicarakan hal-hal tentang membabarkan Dharma<br>\u5982\u4f55\u7406\u89e3 \u201c \u6b62\u8bed\u662f\u4e00\u79cd\u4fee\u884c \uff0c \u65e0\u8a00\u662f\u4e00\u79cd\u5883\u754c \u201d\uff1b \u5ea6\u4eba\u65f6\u8981\u591a\u8bb2\u5f18\u6cd5\u7684\u8bdd<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"632\" height=\"890\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/image-50.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4402\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/image-50.png 632w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/image-50-213x300.png 213w\" sizes=\"(max-width: 632px) 100vw, 632px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"632\" height=\"344\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/image-51.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4403\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/image-51.png 632w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/08\/image-51-300x163.png 300w\" sizes=\"(max-width: 632px) 100vw, 632px\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wenda20160501A 19:46 Pendengar Pria: Master, &#8220;berhenti berbicara adalah salah satu cara pembinaan diri, berdiam diri<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[3215,3216,1907],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4205"}],"collection":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4205"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4205\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8364,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4205\/revisions\/8364"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4205"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4205"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4205"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}