{"id":2514,"date":"2021-05-31T22:32:58","date_gmt":"2021-05-31T15:32:58","guid":{"rendered":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/?p=2514"},"modified":"2021-06-01T10:55:57","modified_gmt":"2021-06-01T03:55:57","slug":"pada-zaman-kemerosotan-dharma-orang-penengah-orang-yang-biasa-biasa-saja-tidak-baik-dan-tidak-buruk-juga-sulit-untuk-menghindari-karma-bersama-%e6%9c%ab%e6%b3%95%e6%97%b6%e6%9c%9f%e4%b8%8d%e5%a5%bd","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/pada-zaman-kemerosotan-dharma-orang-penengah-orang-yang-biasa-biasa-saja-tidak-baik-dan-tidak-buruk-juga-sulit-untuk-menghindari-karma-bersama-%e6%9c%ab%e6%b3%95%e6%97%b6%e6%9c%9f%e4%b8%8d%e5%a5%bd\/","title":{"rendered":"Pada zaman kemerosotan Dharma, orang penengah (orang yang biasa-biasa saja) tidak baik dan tidak buruk juga sulit untuk menghindari karma bersama \u672b\u6cd5\u65f6\u671f\u4e0d\u597d\u4e0d\u574f\u7684\u4e2d\u95f4\u4eba\u4e5f\u96be\u9003\u5171\u4e1a"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">wenda20150301B&nbsp; 01:01:09<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Pendengar Pria: <\/strong>Biasanya ketika kita membujuk orang untuk berbuat baik, lebih kurang akan mendengar pernyataan seperti ini, misalnya: &#8220;Asalkan saya tidak membunuh orang atau membuat kebakaran, dan tidak melakukan hal-hal yang melukai orang lain maka sudah cukup.&#8221; Tetapi baru-baru ini mendengar wejangan Master bahwa pada zaman kemerosotan dharma ini bencana sering terjadi. Begitu terjadi, maka orang penengah (orang yang biasa-biasa saja yang tidak baik dan tidak buruk) juga sulit untuk terhindar dari karma bersama yang menjerat. Hanya orang yang benar-benar baik baru dapat memperoleh perlindungan dari Bodhisattva. Mohon bertanya kepada Master, situasi selanjutnya tidak akan ada lagi orang penengah, apakah karena zaman kemerosotan dharma ini bahkan tidak punya waktu untuk menyingkirkan mereka dari bencana?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Master menjawab:<\/strong> Pada dasarnya seperti ini. Karena sekarang sudah tiba pada zaman kemerosotan dharma dan hanya ada dua jenis orang : yaitu orang baik atau orang jahat. Saya bertanya kepada Anda, ketika orang yang baik melakukan sedikit hal buruk, apakah dia masih termasuk orang baik? Sebuah kemeja putih yang ternoda banyak kecap dan oli mesin yang berwarna hitam, apakah kemeja ini masih merupakan kemeja yang bagus? (Oh, orang yang melakukan sesuatu berdasarkan hati nuraninya maka masih berkemungkinan terlahir sebagai manusia pada kehidupan selanjutnya, orang yang mengembangkan kebaikan hati maka berkemungkinan akan terlahir di alam surga pada kehidupan selanjutnya untuk menikmati berkat, orang yang memiliki hati yang welas asih maka di masa tuanya berkemungkinan dapat bebas dari enam alam kehidupan, orang yang penuh dengan kebencian maka berkemungkinan akan terlahir di alam neraka pada kehidupan selanjutnya, orang yang penuh dengan keserakahan dan tidak pernah merasa puas maka berkemungkinan akan terlahir di alam hantu kelaparan. Orang penengah yang dimaksud oleh Master seharusnya adalah mereka yang tidak melakukan hal-hal buruk berdasarkan hati nuraninya?) betul, persis seperti ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-audio\"><audio controls src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/wenda20150301B-01-01-09-\u672b\u6cd5\u65f6\u671f\u4e0d\u597d\u4e0d\u574f\u7684\u4e2d\u95f4\u4eba\u4e5f\u96be\u9003\u5171\u4e1a-\u4f5b\u5b66\u95ee\u7b54-\u5fae\u5b98\u7f51.mp3\"><\/audio><figcaption>wenda20150301B\u00a0 01:01:09 &#8211; Pada zaman kemerosotan Dharma, orang penengah (orang yang biasa-biasa saja) tidak baik dan tidak buruk juga sulit untuk menghindari karma bersama <br>\u672b\u6cd5\u65f6\u671f\u4e0d\u597d\u4e0d\u574f\u7684\u4e2d\u95f4\u4eba\u4e5f\u96be\u9003\u5171\u4e1a<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"904\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-261.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2533\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-261.png 720w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-261-239x300.png 239w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"206\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-262.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2534\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-262.png 720w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-262-300x86.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wenda20150301B&nbsp; 01:01:09 Pendengar Pria: Biasanya ketika kita membujuk orang untuk berbuat baik, lebih kurang akan<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[998,997,999,1000],"class_list":["post-2514","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-tanya-jawab-master-lu","tag-orang-penengah-orang-yang-biasa-biasa-saja","tag-pada-zaman-kemerosotan-dharma","tag-tidak-baik-dan-tidak-buruk-juga-sulit-untuk-menghindari-karma-bersama","tag-1000"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2514","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2514"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2514\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2550,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2514\/revisions\/2550"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2514"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2514"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2514"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}