{"id":1873,"date":"2021-05-24T11:11:55","date_gmt":"2021-05-24T04:11:55","guid":{"rendered":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/?p=1873"},"modified":"2021-05-25T19:22:40","modified_gmt":"2021-05-25T12:22:40","slug":"membina-diri-adalah-menciptakan-sebuah-lingkungan-yang-sangat-baik-%e4%bf%ae%e8%a1%8c%e5%b0%b1%e6%98%af%e5%9c%a8%e5%88%9b%e9%80%a0%e4%b8%80%e4%b8%aa%e5%be%88%e5%a5%bd%e7%9a%84%e7%8e%af%e5%a2%83","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/membina-diri-adalah-menciptakan-sebuah-lingkungan-yang-sangat-baik-%e4%bf%ae%e8%a1%8c%e5%b0%b1%e6%98%af%e5%9c%a8%e5%88%9b%e9%80%a0%e4%b8%80%e4%b8%aa%e5%be%88%e5%a5%bd%e7%9a%84%e7%8e%af%e5%a2%83\/","title":{"rendered":"Membina diri adalah menciptakan sebuah lingkungan yang sangat baik \u4fee\u884c\u5c31\u662f\u5728\u521b\u9020\u4e00\u4e2a\u5f88\u597d\u7684\u73af\u5883"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>wenda 20130201 58:32<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pendengar Wanita:<\/strong> Master, kita perlu membina pikiran dan perilaku di dunia fana ini. Setelah membina pikiran dengan baik, baru mempraktikkannya ke dalam kehidupan nyata. Artinya membina pikiran dan perilaku itu ada pada waktu yang bersamaan. Lalu, jika kita pergi ke sebuah lingkungan yang lebih baik, apakah itu berarti bahwa &#8230; karena tenang, jadi bisa membina pikiran dengan lebih baik, tetapi pada situasi yang sama, tidak ada faktor lingkungan yang mengganggu Anda, maka pada saat yang sama, pembinaan perilaku diri Anda akan berkurang, benarkah Master?<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Master menjawab:<\/strong> Sepenuhnya benar. (Ada lagi, membina diri di atas gunung, adalah membina ajaran Hinayana atau ajaran Roda Dharma kecil. Ajaran Hinayana adalah membina untuk diri sendiri saja, bukan untuk menyelamatkan orang lain. Menyelamatkan orang termasuk ajaran Mahayana atau ajaran Roda Dharma Besar. Master, Apakah membina sifat diri termasuk ajaran Hinayana?) sebenarnya begini, ajaran Mahayana bermula dari ajaran Hinayana. Ajaran Hinayana adalah pondasi dalam belajar Buddha Dharma, dan ajaran Mahayana itu sendiri adalah untuk menyelamatkan orang. Saat menyelamatkan orang, Anda harus menyelamatkan diri sendiri baru bisa menyelamatkan orang lain, diri sendiri sudah terselamatkan baru dapat menyelamatkan orang lain, jadi ajaran Hinayana itu sangat diperlukan&nbsp; (Ya, saya mendengar wejangan Master tentang, membina diri di gunung itu bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi tingkat pembinaannya hanya bisa mencapai sekitar alam berwujud &#8221; Rupadhatu&#8221;, atau alam tidak berwujud &#8220;Arupadhatu&#8221; atau alam nafsu &#8220;kammadhatu&#8221;, benarkah?) Ya, begitulah (Apakah itu berarti bahwa dalam proses membina pikiran dan perilaku, di satu sisi kita harus membina diri dan di sisi lain kita harus melewati cobaan iblis barulah kita bisa melatih pikiran dan ketekunan kita, tetapi pada saat yang sama kita harus membina diri dengan sungguh-sungguh, bukan?) Ya, begitulah, membina pikiran dan perilaku harus secara bersamaan, maka orang ini baru bisa menghasilkan hati yang tulus, perasaan yang sebenarnya, dan kesadaran yang sesungguhnya. Hanya membina pikiran tanpa membina perilaku, maka orang ini tidak bisa keluar dari ini, hanya dengan&nbsp; menyelamatkan orang lain barulah bisa menjadi Bodhisattva. (Ya) harus mengendalikan perilaku diri, barulah seorang Bodhisattva, benar tidak? Sebenarnya, melangkah keluar untuk menyelamatkan orang dan mengendalikan diri sendiri itu tidak ada pertentangannya (Ya, apakah itu berarti kita lebih mudah untuk introspeksi dan memeriksa diri dengan membina diri di tengah-tengah dunia fana ini, yaitu penyimpangan dan kesalahan diri dalam membina pikiran. Atau dengan kata lain yaitu dari satu sisi dimana kita lebih sulit untuk membina diri, dan sisi lainnya adalah pembinaan kita akan lebih mudah masuk ke sifat dasar diri, atau lebih mudah untuk merangsang sifat dasar diri?)&nbsp; Dalam membina pikiran dan perilaku diri &#8230; emm, maaf, Master sedikit lelah sekarang, Anda ulangi sekali lagi (Master, maksudnya kita membina diri di dalam dunia fana ini, apakah lebih mudah merangsang sifat dasar kita?) Hal ini bersifat saling melengkapi dan tidak mutlak, karena sangat sederhana. Ada seorang biksu tua yang sengaja mendorong mobil ke pusat perbelanjaan yang ramai untuk membina diri, dia ingin melatih dirinya untuk berada di dunia fana dan tidak terpengaruh oleh dunia luar, tetapi sebenarnya ini mengambil resiko, tentu saja akan lebih baik untuk membina diri di lingkungan yang sudah ditetapkan sendiri. Lalu menurut Anda apakah akan lebih baik dengan memiliki lebih banyak kontradiksi agar bisa melatih diri menjadi lebih kuat atau sedikit kontradiksi dalam seumur hidup hingga ajal menjemput, manakah yang lebih mudah untuk bisa membina diri naik ke atas? (Seharusnya yang terakhir) Benar, tentu saja semakin sedikit masalah semakin baik. Banyak masalah pun tidak berdaya, sehingga dikatakan harus kuat, harus ada kemauan keras. Itu adalah dimana pada awalnya dia sudah menciptakan kondisi yang begitu baik, sama sekali tidak perlu melatih ketetapan hati dirinya, dirinya sendiri sudah berhasil dalam membina diri, oleh karena itu kenapa kuil harus dibangun di atas gunung, untuk membiarkan orang naik ke gunung? Di atas gunung itu tenang, tidak ada orang yang datang mengganggu (ya, mengerti Master. Kita dalam proses membina diri, di satu sisi adalah untuk meningkatkan sifat diri, dan di sisi lain adalah untuk mengurangi pengaruh dari lingkungan luar) Benar (menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk membina pikiran, benarkah Master?) Ya, membina diri dan pikiran itu sendiri adalah untuk menciptakan sebuah lingkungan yang baik, banyak orang yang telah membina dirinya dengan sangat baik di kehidupan sebelumnya. Dia telah memiliki lingkungan yang begitu baik untuk membina diri pada kehidupan ini, dia sudah hemat selangkah, dia bisa langsung membina dirinya dengan baik, benarkan? (Ya, Master)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-audio\"><audio controls src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/wenda20130201-58-32-\u4fee\u884c\u5c31\u662f\u5728\u521b\u9020\u4e00\u4e2a\u5f88\u597d\u7684\u73af\u5883-\u4f5b\u5b66\u95ee\u7b54-\u5fae\u5b98\u7f51.mp3\"><\/audio><figcaption><strong>wenda 20130201 58:32<\/strong> &#8211; Membina diri adalah menciptakan sebuah lingkungan yang sangat baik <br>\u4fee\u884c\u5c31\u662f\u5728\u521b\u9020\u4e00\u4e2a\u5f88\u597d\u7684\u73af\u5883<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"689\" height=\"958\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-137.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1922\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-137.png 689w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-137-216x300.png 216w\" sizes=\"(max-width: 689px) 100vw, 689px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"689\" height=\"891\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-138.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1923\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-138.png 689w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-138-232x300.png 232w\" sizes=\"(max-width: 689px) 100vw, 689px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"690\" height=\"957\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-139.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1924\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-139.png 690w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-139-216x300.png 216w\" sizes=\"(max-width: 690px) 100vw, 690px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" width=\"689\" height=\"103\" src=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-140.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-1925\" srcset=\"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-140.png 689w, https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-content\/uploads\/2021\/05\/image-140-300x45.png 300w\" sizes=\"(max-width: 689px) 100vw, 689px\" \/><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>wenda 20130201 58:32 Pendengar Wanita: Master, kita perlu membina pikiran dan perilaku di dunia fana<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[2],"tags":[618,617,597,616,383,619,621,620],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1873"}],"collection":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1873"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1873\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1982,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1873\/revisions\/1982"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1873"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1873"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/xinlingfamenindonesia.org\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1873"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}